Gunung Ceremai, dari Jalur Terjal Sampai Pemandangan Menawan

Teks: Zhibril A

Foto: Fazar Guntara

 

Azan subuh baru berkumandang saat kami turun dari bus. Perjalanan Serang – Kuningan merupakan perjalanan yang panjang. Menghabiskan nyaris satu malam dengan tidur dan sesekali memandangi pemandangan di luar jendela yang gelap. Kami menurunkan ransel dari bagasi dengan mata sadar tak sadar. Sepagi ini ojek sudah siaga dan menawari kami menuju Pos Linggarjati, sepertinya mereka tahu kami akan ke sana dari ransel dan penampilan kami. Setelah berunding, kami sepakat naik ojek konfensional. Lumayan juga, kan, kalau jalan kaki.

Angin desa yang dingin membuat wajah harus bersembunyi di balik punggung supir ojek. Jalanannya mulai menanjak. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah berpagar terlihat sepi, belum ada aktivitas. Hanya ada beberapa orang yang keluar musala atau warung yang mulai dibuka. Kami datang ke sini bertepatan saat kehidupan akan segera dimulai.

Setiba di Pos Pendaftaran Pendakian via Linggarjati, saya dan Faisal mengecek ke Loket Pos Pendaftaran. Masih belum buka rupanya, masih pada tidur sepertinya. Devit dan Desy sudah menyelesaikan urusannya dengan sopir-sopir ojek. Terus sekarang gimana, dong? Pos masih tutup, mata masih lumayan ngantuk, dingin mulai merasuk, dan mau makan belum ada warung makan yang buka. Setelah dicek ke bagian belakang, ternyata musala tidak dikunci. Ada toilet, dipan luas dan terututup. Oke, kami memutuskan tidur sejenak sampai menunggu pos dibuka, sampai ada warung makan buka untuk sarapan.

Sebenarnya kami mau ngapain, sih? Ada Pos Pendafatarn Pendakian, ada Linggarjati dan ada ransel? Ya, sepertinya sudah bisa ditebak. Saya, Devit, Desy dan Faisal, akan mendaki Gunung Ceremai (kadang disebut juga Ciremai akibat kebiasaan masyarakat Pasundan yang menamakan daerahnya dengan ci-) lewat jalur Linggarjati, jalur pendakian Gunung Ceremai yang katanya paling ekstrem dan sulit.

 

***

 

Pukul 7 pagi saya bangun, bukan karena kukuruyuk ayam, melainkan suara orang di luar yang tengah mengobrolkan sesuatu. Di tempat sesunyi ini obrolan 2 atau 3 orang bisa terdengar ramai. Faisal terlihat sedang merapikan packing-annya. Desy dan Devit masih tidur. Saya mengguncangkan tubuh keduanya supaya bangun.

Seusai cuci muka, saya keluar. Melebur dengen orang yang tengah mengobrol. Mereka adalah pendaki yang juga akan mendaki Gunung Ceremai. Devit dan Faisal juga ikut keluar. Kami lantas mengurus karcis pendakian di Pos Pendaftaran. Sebelum memulai pendakian, saya ingin berjalan-jalan dulu. Juga mencari sarapan.

Setelah turun ke bawah, saya menemukan warung nasi uduk yang dikerumuni beberapa ibu-ibu yang juga membeli nasi uduk. Gorengannya masih panas dan terlihat kriuk-kriuk. Sangat cocok dimakan di tempat dingin seperti ini. Saya kembali ke pos dengan 4 bungkus nasi uduk dan gorengan satu plastik penuh.

Perut sudah terisi, karcis sudah ditangan, dan ransel sudah di pundak. Perjalanan siap dimulai.

Gunung Ceremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 mdpl. Terletak di 2 kabupaten yakni Kuningan dan Majalengka. Gunung ini dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ceremai (TNGC). Selain jalur Linggarjati, ada juga jalur Apuy yang juga masuk kawasan Majalengka, serta jalur Palutungan yang masuk kawasan Kuningan.

Dari Pos Pendaftaran Pendakian via Linggarjati kami berjalan menuju Pos Cibunar. Melewati persawahan dan perkebunan warga. Jalanannya masih bagus berupa jalan beraspal. Namun sudah mulai menanjak. Belum apa-apa kami sudah terseok-seok dan tergopoh-gopoh. Sebenarnya ada ojek-ojek yang bisa mengantarkan sampai ke Pos Cibunar, harganya 15 ribu sampai 25 ribu, tergantung negosiasi. Namun kami memilih berjalan kaki. Demi menikmati perjalanan. Dan, berhemat.

Di Pos Cibunar, kami beristirahat. Di sini ada warung terakhir tempat mengisi logistik. Pos Cibunar dipenuhi pepohonan pinus yang meneduhkan sekaligus menenangkan. Sangat cocok buat yang ingin kemping ceria.

Dari Pos Cibunar, perjalanan selanjutnya mulai menanjak. Jalur mulai sempit dan berupa bebatuan. Kami tiba di Pos Leuweung Datar dengan perjalanan kami yang bisa dibilang lambat.

Di Pos Leuweung Datar kami beristirahat. Desy, perempuan satu-satunya di tim kami, meminum air yang dibawanya. Diikuti yang lainnya. Pendakian ini terasa sepi. Sedikit sekali pendaki yang ditemui. Selain pendaki asal Bandung tadi, belum ada lagi pendaki yang kami temui.

Oke, cukup istirahatnya. Perjalanan dilanjutkan. Setelah melewati Pos Kondang Amis, kami akhirnya tiba di Pos Kuburan Kuda. Perjalanannya lumayan jauh dan banyak tanjakan. Hujan turun deras. Kami akhirnya memutuskan memasang flysheet di Pos Kuburan Kuda untuk berlindung dari guyuran hujan sambil beristirahat.

Saat hujan reda, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Hutan tertutup ini mulai terasa gelapnya. Daripada melanjutkan perjalanan yang kemungkinannya tiba malam hari di Pos Pangalap, kami memutuskan memasang tenda di Pos Kuburan Kuda. Jangan tanya apakah kami tidak merasa takut bermalam di sini? Mendengar namanya saja sudah merinding. Untung kami ingat, tujuan kami ke sini untuk mendaki, menikmati alamnya. Jadi abaikan saja semua hal mistis yang bisa menganggu tujuan.

Untuk malam yang kami lewati di tenda, saya tidak mau menceritakannya. Silakan saja kalau ada yang mau menikmati bermalam di Pos Kuburan Kuda. Dan selamat menikmati apa yang saya alami.

 

***

 

Esok paginya, perjalanan dilanjutkan. Tenda kami tinggal di Pos Kuburan Kuda untuk mempercepat pergerakan. Kami hanya membawa air minum, makanan, dan flysheet. Hutan yang rapat dan rimbun membuat kami tidak bisa melihat pemandangan karena tertutup. Kami tiba di Pos Pangalap. Setelah beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan sampai ke Tanjakan Seruni. Tanjakan Binbin sebelumnya dilalui. Ini adalah 2 tanjakan yang paling terkenal di kalangan pendaki yang pernah ke Gunung Ceremai. Saya harus berpegangan pada akar-akar pohon dan ranting supaya bisa menanjak. Miring dan terjal.

Seperti tak kenal lelah, kami terus mendaki sampai Pos Bapa Tere, lalu Pos Batu Lingga. Dan istirahat makan siang di Pos Sanggabuana 1.

Makan siang jadi momen yang paling ditunggu-tunggu. Cukup lama kami di Pos Sanggabuana 1. Saya berbaring di tanah. Menikmati pemandangan tarian ranting dan dedaunan yang ditiup angin.

Karena mengejar waktu, perjalanan kami teruskan sampai Pos Sanggabuana 2. Di sana kami menemukan sumber air di celah batu tebing. Meski kecil tetap saja lumayan. Airnya juga segar. Selain itu, banyak buah arbei, disebut juga stroberi hutan, yang ada di dekat sumber air. Saya dan Desy asyik berpanen arbei sampai melupakan Devit dan Faisal yang sudah siap melanjutkan pendakian.

Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang. Dari Pos Sanggabuana 2, kami melanjutkan ke Pos Pengasinan. Jalur yang kami lalui kini lebih terbuka, bebatuan, dan serupa aliran kali. Faisal sudah makin terlihat kelelahan. Bahkan sering ia tertinggal sehingga kami harus menunggunya supaya tetap bersamaan.

Tanaman eidelweis mulai kami temukan. Sayanganya sedang tidak musim berbunga. Hanya sisa-sisa musim lalu yang sudah mengering.

Sebelum kami tiba di Pos Pengasinan, hujan turun deras. Kami sempat berlindung di flysheet. Untung saja Pos Pengasinan sudah di depan mata. Kami berlari sampai Pos Pengasinan di ketinggian 2.800 mdpl. Di sana sudah ada beberapa pendaki dari Tangerang. Mereka berlindung di bawah flysheet sambil menjarang air.

Kami bergabung. Tidak begitu lama, setelah berkenalan, kami sudah saling bertukar cerita. Mereka membagi teh panas yang baru dibuat untuk kami.

Setelah hujan reda, kami baru bisa menikmati pemandangan yang menawan. Hamparan punggungan terlihat dengan anggun. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Pertimbangan selanjutnya adalah, apakah kami akan melanjutkan pendakian sampai puncak atau tidak?

Baiklah, kami memutuskan kembali turun ke Pos Kuburan Kuda. Pertama, kalau kami memaksakan sampai puncak yang sudah terlihat itu, kami bisa saja pulang kemalamam. Hitunglan 1 jam perjalanan dari Pos Pengasinan sampai puncak, maka pulang pergi 2 jam. Kami baru tiba di Pos Pengasinan kembali jam 6 sore. Kami tidak mau turun sampai larut malam. Kedua, kami membuktikan kalau puncak bukanlah tujuan utama. Perjalanan dan proses itulah tujuannya.[]

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Vote: Sundul atau Tenggelamkan?

1 point
Sundul Tenggelamkan

Total vote: 1

Sundulan: 1

Persentase sundulan: 100.000000%

Penenggelaman: 0

Persentase penenggelaman: 0.000000%

1 Komentar

Komentari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kekuatan di Ceremai

Zonasi Vegetasi Gunung Ceremai