Deg-Deg-Serr Meniti Punggung Naga di Gunung Daik Bercabang Tiga

Gunung Daik
Meniti punggung naga dengan jurang curam di kanan-kiri. (Foto: Dokumentasi Kepal)

Kami nekat saat memutuskan ingin mendaki Gunung Daik. Ini karena lokasi Gunung Daik yang cukup jauh dari Batam, di Kabupaten Lingga, dan gunung itu memiliki banyak cerita misterius. Namun, kami hanya ingin mendaki. Itu saja.

Kabupaten Lingga berada 130 kilometer lebih dari Pulau Batam. Untuk menjangkaunya, kami harus menempuh jalur laut selama kurang lebih lima jam. Itu pun tidak dari Batam, melainkan dari Tanjungpinang.

Saya berangkat berdua dengan Meri, kawan seprofesi yang juga memiliki hobi jalan. Kami pergi ke Tanjungpinang terlebih dahulu. Perjalanannya membutuhkan waktu satu jam dengan kapal cepat. Di Tanjungpinang, kami hanya singgah di pelabuhannya saja, Pelabuhan Sri Bintan Pura, menunggu kapal menuju Pelabuhan Tanjungbeton di Kota Daik, Lingga.

Kabupaten Lingga merupakan daerah kepulauan. Pulau yang kami tuju bernama Daik. Kapal yang akan kami tumpangi itu tidak langsung berlabuh di Daik, tetapi singgah sejenak di Dabo, pulau lain di wilayah Kabupaten Lingga.

Berangkat pukul 11.00 WIB dari Tanjungpinang, kami tiba pukul 16.00 WIB di Lingga. Paino, kawan di Lingga, mengantar kami ke penginapan. Ia meminta kami istirahat. Malam harinya, ia menjemput kami kembali untuk berkumpul bersama kawan-kawan komunitas pencinta alamnya. Kepal namanya, singkatan dari Komunitas Pecinta Alam Lingga.

Kami merebahkan diri di kasur. Perjalanan lima jam di kapal cukup membuat tubuh terguncang. Apalagi kami tidak dapat bangku. Sepanjang perjalanan, kami harus berdiri.

Tanpa sadar, kami tertidur. Ketukan di pintu kamar menyadarkan kami. Kami kaget setelah melihat jam, menjelang pukul 19.00 WIB. Kami bergegas membersihkan badan dan menyambut kawan yang mengetuk pintu kami tadi.

Gunung Daik Bercabang Tiga menyaksikan kehidupan masyarakat Lingga dari ketinggian 1.165 mdpl. Foto diambil saat pagi hari. (Foto: Dokumentasi Kepal)

Mereka membawa kami ke sebuah pondok di teras rumah. Di dalam pondok itu sudah berkumpul sejumlah orang. Sebagian besar masih muda dan belum berkeluarga. Hanya satu yang sudah beristri. Namanya Cipto dan ia-lah Ketua Kepal. Ia juga yang akan menjadi ketua regu pendakian.

Malam itu kami hanya mengobrol sekadar untuk mengakrabkan diri. Soal perbekalan, Paino sudah memberitahukan jauh-jauh hari sehingga kami dapat menyiapkannya dari Batam. Soal logistik makan dan minum, mereka yang menyiapkan.

“Kita nanti bawa nasi dagang saja. Itu untuk sarapan sama makan siang. Kalau untuk makan malam, sudah bawa mi, kan?” katanya.

Pertemuan itu dibatasi hanya sampai pukul 21.00 WIB. Ini supaya kami bisa mempersiapkan fisik untuk keesokan harinya. Sesampainya di kamar, saya dan Meri tak langsung tidur. Kami berkemas. Meninggalkan setengah baju bersih di kamar dan membawa barang seperlunya di dalam ransel.

Setelah itu kami tidur. Jantung berdegup menanti datangnya hari esok.

* * *

Subuh, pintu kamar kami kembali diketuk. Pasti Paino, pikirku. Saya membuka pintu dan, benar saja, mereka sudah menunggu di ruang tengah penginapan.

“Bentar, ya,” kataku.

Setelah mandi dan menutup ransel, saya dan Meri keluar kamar. Hari masih gelap. Kami kembali berkumpul di pondok rumah Cipto. Menunggu kawan lain berdatangan.

Tiga puluh menit berselang, orang yang berkumpul masih sedikit. Ini membuat Cipto cukup meradang. “Kalau sampai jam 07.00 tak sampai juga, ditinggal saja,” katanya.

Sambil menunggu yang lain datang, kami mengisi perut dulu. Menunya, nasi dagang—nasi lemak khas masyarakat melayu, dan teh panas. Lumayan, bekal energi untuk mendaki.

Pukul 07.00 teng, kami berangkat menuju gerbang pendakian dengan menggunakan sepeda motor. Kendaraan-kendaraan itu kemudian diinapkan di rumah warga di samping gerbang. Cipto sudah mengenal beberapa orang di sana.

Gerbang pendakian itu terbuat dari susunan batu yang disemen secara permanen. Ia diapit rumah-rumah warga di kanan dan kiri. Kami menitipkan sepeda motor di sana. Cipto sudah mengenal sang pemilik rumah.

Kami berfoto sejenak di bawah gerbang. Mengabadikan diri yang masih tampak segar. “Besok, selesai mendaki, kita foto lagi di sini. Pasti terlihat perbedaannya,” katanya.

Gunung Daik
Berfoto di gerbang pendakian sebelum pendakian dimulai. (Foto: Dokumentasi Kepal)

Setelah berdoa, kami mulai berjalan. Di awal perjalanan, kami masih bisa berjalan berdua-dua. Perjalanan berlangsung santai. Seperti piknik, kami memandang ke kanan-kiri dengan gembira, seakan perjalanan hanya sebentar.

Kondisi masih prima. Ransel di pundak tidak terasa beratnya. Apalagi jalanan yang kami lalui masih mudah. Tanahnya landai dengan semak belukar yang tidak terlalu tinggi. Tampak sekali jalanan ini masih sering dilalui orang. Kami juga masih melihat rumah-rumah warga, meskipun lokasinya berjauhan satu sama lain.

Setelah tiga puluh menit berjalan, semak belukar sudah meninggi. Jalanan pun menyempit. Kami berjalan satu per satu. Tibalah kami di sebuah persimpangan. Amran, pemandu kami, berbelok ke kiri. Padahal, jalan ke kanan lebih terbuka.

“Ke sana (arah kanan) itu ke arah makam raja-raja. Itu makam keramat,” katanya.

Sebelum mendaki, Cipto sudah membagi sedikit cerita. Gunung Daik ini bukan gunung biasa. Memang gunung ini terbilang rendah—tingginya sekitar 1.165 mdpl. Namun, hingga kini, belum ada seorang pun yang bisa mendaki hingga puncak. Faktor penyebabnya beragam. Konon, kalau niat awal kita sudah jelek, kita akan tersesat di gunung ini. Seakan sudah melangkah di jalur yang benar, eh ternyata, hanya berputar-putar.

Cuaca di gunung ini juga tidak dapat ditebak. Cuaca cerah dengan sinar matahari yang melimpah ketika pergi bisa saja berubah sesampainya kita di hutan. Hujan bisa datang kapan saja tanpa diminta. Inilah yang kemudian membuat Cipto meminta kami menyiapkan jas hujan di dalam ransel.

Cipto juga meminta kami untuk meluruskan niat hanya untuk mendaki. Jangan karena seseorang yang salah niat, seisi tim jadi taruhannya. Ini gunung keramat, bukan ajang untuk mengadu selamat.

Kami bertemu sungai lagi, setengah jam kemudian. Ini sungai yang sama. Bedanya, tidak ada jembatan kali ini. Hanya bebatuan yang, mau tak mau, harus dilompati. Kami melepas sepatu, supaya tidak basah. Perjalanan masih panjang.

Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di tepi sungai. Air sungai ini begitu jernih dan dingin. Saya menyeka muka yang penuh peluh. Segar bukan main.

“Minum saja. Pasti segar,” kata Paino. Ia sedang mengisi botol air minumnya yang sudah kosong.

“Air minum orang Lingga, sumbernya dari sini,” katanya lagi.

Kami tidak lama di sini. Setelah semua selesai menyeberang dan beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Gunung Daik
Melihat air sungai mengalir jernih, sayang untuk dilewatkan begitu saja. (Foto: Dokumentasi Kepal)

Kami berjalan dan terus berjalan. Tetumbuhan di kanan-kiri sudah melebihi tinggi tubuh. Saya berjalan dengan menundukkan kepala. Pertama, karena tidak ingin tersandung dan kedua, beban di pundak sudah terasa semakin berat.

Saya menyesal kenapa tidak pernah berolahraga setiap harinya. Giliran harus berjalan lama dengan medan yang naik turun begini, saya jadi mudah lelah. Tanpa sadar, saya sudah berada di urutan paling belakang. Teman-teman yang di depan menyemangati.

Setiap kali tiba di pos peristirahatan, saya berbaring. Menyandarkan kaki pada pohon sehingga darah dari kaki bisa mengalir kembali ke jantung. Ini sedikit ampuh mengurangi pegal pada kaki.

Bukan itu saja, yang paling menjengkelkan adalah saat beberapa kali saya terperosok jatuh. Ini karena sol sepatu jalan saya yang terlalu tinggi. Menginjak akar saja bisa membuat saya oleng dan akhirnya jatuh. Argh!

Rasanya saya ingin pulang saja. Perjalanan dilanjutkan besok. Akan tetapi, bagaimana bisa? Selain malu, saya juga sudah terlanjur sampai di Lingga. Saya harus menyelesaikannya.

Meri menyemangati. Ia tak banyak bicara ketika berjalan. Ia memilih diam. Katanya, untuk menghemat tenaga. Saya memilih tetap berjalan, meskipun sangat pelan.

Tiba-tiba, orang di depan saya berhenti. Saya pun ikut berhenti dan mengatur nafas. Pendakian Gunung Daik Lingga ini akhirnya menemui tantangan terbesarnya. Sebuah jalan setapak sepanjang 50 meter dengan kanan dan kiri jurang terjal ada di depan mata.

Amran, sang pemandu, sudah sampai di ujung jalan setapak. Tapi sosoknya tersembunyi di balik rimbun pepohonan dan semak belukar yang meninggi. Sama seperti jalan setapak itu. Tanah hanya terlihat samar saja.

Jantung berdegup kencang. Keringat sebesar biji jagung sudah bercucuran di dahi hingga membasahi kepala dan badan. Punggung berat oleh beban dalam tas ransel. Kaki mulai tak terasa lagi keberadaannya.

Pendakian sudah berlangsung hampir enam jam. Dua pos telah dilalui. Beberapa kilometer lagi pun akan sampai di pos ketiga, pos terakhir. Sayang rasanya kalau harus berhenti di jalan setapak ini.

“Pegang talinya! Atau mau pakai pengaman?” teriak Cipto dari belakang.

Jalan setapak itu biasa disebut dengan punggung naga. Sebab, bukan hanya setapak saja, tapi jalanan itu pun meliuk-liuk. Supaya selamat saat melewatinya, sebuah tali telah dipasang dari pohon ke pohon sebagai pegangan. Tapi, yang namanya tali, tentu beda dengan pegangan pada jembatan kayu. Kalau badan kita bergerak, pegangan pasti ikut bergerak. Otomatis tali pun bergerak. Tangan yang memegangnya akan terentang lebih tinggi. Tanpa sadar, pandangan mata sudah tertuju pada jurang yang curam.

“Jalannya jangan terlalu ke pinggir. Di tengah-tengah jalan saja,” teriak kawan seperjalanan yang sudah sampai di ujung punggung naga.

Seusai meniti, kami beristirahat sebentar. Pak Amran sedikit bercerita tentang naga dan Gunung Daik. Konon, dari Gunung Daik inilah asal mula nama Kabupaten Lingga.

Gunung Daik ini memiliki penampilan yang lain dari gunung biasanya. Gunung Daik tak hanya memiliki satu puncak, tapi tiga. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan cabang tiga. Puncak pertama, dinamai Puncak Daik. Puncak kedua, di tengah, dinamai Puncak Pejantan. Dan puncak ketiga, yang paling landai, disebut Puncak Cindai Menangis.

Konon, Lingga telah menjadi semacam pintu gerbang menuju Indonesia, sejak dulu kala. Para saudagar Tiongkok pasti akan melewati perairan Lingga sebelum sampai di Indonesia. Gunung Daik bercabang tiga itulah yang menjadi penanda mereka. Mereka mulai menyebutnya, ‘Lingge-Lingge-Lingge’ yang artinya ‘gigi naga’. Ling berarti naga, ge berarti gigi.

“Dari jauh, ketiga cabang gunung ini mirip gigi naga,” kata Pak Amran.

Jalur pendakian yang kami tempuh adalah jalur pendakian menuju cabang pertama, Cabang Daik. Ada tiga pos yang harus dilalui sebelum sampai ke titik pendakian paling ujung. Pukul 16.00 WIB, kami sampai di pos tiga. Kami mendirikan tenda, menyalakan api unggun, dan bermalam.

Gunung Daik
Berfoto di leher naga. Latar: Puncak Daik, tebing batu terjal setinggi 30 meter-an. (Foto: Dokumentasi Kepal)
Esok harinya, kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Daik. Meri tak ikut. Ia menunggu di pos tiga. Ia memilih mengabadikan pemandangan Daik dari atas.

Dua jam perjalanan dengan jalur menapak, kami sampai di sebuah tanah landai. Tanah landai ini yang disebut leher naga. Dari sini, Puncak Daik terlihat begitu jelas.

Di sinilah pendakian kami mau tak mau harus berhenti. Puncak Daik adalah sebuah tebing batu setinggi 30 meteran. Begitu terjal dengan kemiringan 180 derajat. Perlu peralatan memanjat untuk bisa sampai ke puncak.

“Belum ada yang bisa sampai ke puncak itu. Mereka hanya sampai sini,” kata Amran.

Cuaca sedang sangat bersahabat saat itu. Langit menghampar biru. Angin berhembus lembut. Pohon-pohon hijau berdesir-desir tersapu angin. Puncak Daik berdiri dengan begitu gagahnya. Alkisah, di sanalah tempat para dewa dan sultan pernah bertapa.

Amran merogoh saku celananya. Dikeluarkannya sebuah telepon seluler, dan ia pun mulai mengabadikan tebing puncak si gunung bersejarah. Padahal ia sudah berkali-kali mendaki Gunung Daik. Kenapa ia masih saja memotret?

“Sebab baru kali inilah, Puncak Daik bisa dilihat begitu lama. Yang sudah-sudah, tak sampai lima menit di sini, cuaca tiba-tiba mendung. Awan turun menutupi puncaknya,” tuturnya.

Baiklah, meskipun saya tak bisa sampai puncak, saya sudah bersyukur mampu mencapai leher naga. Bukan mudah melakukan pendakian dengan kaki yang telah lama vakum menjejak hutan belantara ini. Lain kali, saya harus berolahraga sebelum memutuskan untuk mendaki.[]

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Vote: Sundul atau Tenggelamkan?

1 point
Sundul Tenggelamkan

Total vote: 1

Sundulan: 1

Persentase sundulan: 100.000000%

Penenggelaman: 0

Persentase penenggelaman: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pizza Andaliman

Sekeping Surga di Negeri Andaliman

Sunset di Gunung SUmbing

Sunset Cantik di Gunung Sumbing