Melawat ke Ujung Barat Pulau Jawa

Mercusuar Cikoneng
Foto: Gita Gisela

Saya terpukau melihat gambar mercusuar muncul menghiasi sepotong film Land Ho! Mercusuar itu tampak tegak berdiri dari kejauhan, menghiasi lepasnya laut biru Islandia. Melalui film tersebut, saya teringat mercusuar di ujung barat Desa Cikoneng, Kabupaten Anyer, Banten. Menara yang menjadi pengawas lalu lintas laut tersebut biasa dilewati jika hendak berkunjung ke saudara di kampung, namun tak pernah sekali pun saya jelajahi.

Sudah beberapa bulan tak bertolak ke pesisir barat, kini saya diberi kesempatan untuk kembali. Tebersit keinginan untuk menyempatkan diri menyapa menara suar lebih dekat. Saya pun bertanya kepada seorang sahabat asli Banten. Menurutnya, mercusuar Cikoneng selalu dibuka setiap hari, menarik wisatawan yang penasaran dengan cerita di balik arsitektur kunonya. Mendengarnya, saya dengan mantap membulatkan niat menjadi salah satu wisatawan itu.

Selepas kuliah siang itu, sepasang kaki saya mulai melangkah, memberangkatkan diri ke perjalanan yang tak tahu kapan akan menepi. Dari Lengkong Besar, saya menaiki angkutan kota (angkot) berwarna hijau jurusan Kalapa–Dago. Dilanjutkan dengan angkot berwarna jingga jurusan Kalapa–Cibaduyut hingga terminal Leuwipanjang. Panasnya hari selepas hujan di waktu pagi tak urung membuat supir angkot berhenti bersuara, menarik setiap penumpang yang turun dari bus. Sambil menyusuri jalanan yang tergenang oleh air, saya pun mencari jalur bus tujuan.

Sampai di depan jalur, seorang pria bertanya ke mana saya akan pergi. Tangannya menunjuk bus di depan sambil bertutur, “Itu, Neng, Bandung–Merak sudah mau berangkat.”

Dengan anggukan, saya berlari kecil mengejar bus yang akan mengantar saya menuju Serang.

Di dalam bus, tak begitu banyak penumpangnya. Bangku kosong di depan terlihat menarik perhatian. Saya pun memilih duduk di sana untuk beberapa jam ke depan. Sesaat kemudian, bus pun mulai menjauhi bibir jalan secara perlahan. Sesekali pedagang asongan silih berganti masuk ke dalam bus, menjajakan dagangannya, atau para pengamen yang bernyanyi bebas dengan lagu ciptaannya. Namun, tak sedikit pula dari mereka yang keluar tanpa hasil.

Seiring memasuki pintu tol Purbaleunyi, rongga tubuh bus mulai tersapu bersih dari para pedagang asongan dan pengamen. Berganti dengan musik dangdut yang mengalun syahdu melalui pengeras suara, mengisi senyap di antara para penumpang. Seorang kondektur bus mulai bangkit dari duduknya, menagih ongkos para penumpang mulai dari deretan bangku belakang hingga tiba giliran saya yang berada di posisi terdepan. Membayar satu kali perjalanan sebesar Rp80 ribu, setara dengan tiket kereta api jurusan Bandung–Jakarta yang biasa saya tumpangi.

Cahaya matahari bersinar begitu terik dari balik jendela. Ingin rasanya jendela itu saya tutupi tirai, tapi baris-baris gunung beserta sawah yang terhampar di kaki-kakinya tampak lebih arif. Akhirnya niat untuk bersembunyi di balik tirai diurungkan. Jalanan terlihat begitu lengang. Kamacetan sedang menjauhi nasib saya hari itu. Namun, selang beberapa lama, yang ditakuti terjadi. Kepadatan di ruas jalan begitu dekat dengan bus yang saya tumpangi, membuat saya mulai mengira-ngira pukul berapa akan sampai tujuan.

Melihat mobil-mobil berbaris membentuk tiga banjar, bus langsung beralih ke pintu tol di dekatnya. Cianjur, begitu tulisan yang terpampang di papan navigasi. Saya yang sebelumnya biasa bepergian dengan bus melalui tol Cipularang, langsung terkejut.

Nggak lewat tol, Neng,” begitu kata kondektur bus.

Saya yang pasrah menerima perjalanan yang kian panjang, hanya bisa berharap bisa cepat tiba sebelum malam terlalu larut.

Mercusuar Cikoneng
Foto: Gita Gisela
Memasuki Padalarang, mata saya langsung disuguhi pemandangan yang bukan lagi kota atau jalan bebas hambatan. Rumah-rumah berkumpul memadati satu tempat, kemudian berganti dengan pemandangan lembah di bahu kanan jalan. Pepohonan yang berbaris di pinggir jalan begitu rimbun. Beberapa mata air yang terlihat jernih dapat ditemui selagi bus masih menderu. Bagi yang terlalu lama berada di kawasan perkotaan, tentu pemandangan itu merupakan hal yang luar biasa untuk dinikmati.

Sore menjelang, bus mulai memasuki daerah perbatasan Cianjur. Kebun teh mulai terlihat menghiasi perbukitan. Lagi-lagi harus saya akui, hal ini merupakan sesuatu yang jarang ditemui. Tanpa bosan, saya terus mengarahkan pandangan ke luar jendela, menikmati suasana seiring bus menuruni kaki gunung.

Terlepas dari keindahan alam, bus pun beralih meroda ke tempat yang lebih rendah. Dunia bagaikan transisi, gedung-gedung pencakar langit tampak tegak berdiri. Malam belum terlalu menunjukkan dirinya, menyisakan sedikit tempat untuk matahari berpendar. Cahayanya yang belum pula surut, masih terpantul di antara lapisan jernih gedung-gedung itu.

Beruntung, jalan tol di lingkar dalam Kota Jakarta tidak ramai seperti biasanya. Bus pun dapat bebas melaju, mengikuti setiap cahaya lampu yang sedikit demi sedikit menghinggapi ruas jalan.

Sekitar pukul 21.13 WIB, saya tiba di Serang. Hampir larut malam memang, tapi perjalanan belum berhenti sampai di situ. Masih ada sekitar 49 km untuk bisa mencapai mercusuar melalui jalur tol. Tapi karena hari sudah tidak memungkinkan, saya memilih untuk singgah terlebih dahulu di rumah saudara di Labuan dengan jarak yang lebih jauh, yaitu 57 Km, dengan bus Murni berwarna merah tujuan Kalideres–Labuan.

Keesokan paginya, hujan turun membasahi. Awalnya, sempat terpikir oleh saya untuk mengalihkan jadwal berwisata sejarah ke hari berikutnya. Namun, tak dinyana sekitar satu jam kemudian, awan tak lagi mengucurkan rintik air. Saya pun dengan sigap melangkah kembali mengejar waktu.

Dari Labuan sekitar pukul 10.25 WIB, saya kemudian diantar dengan angkot berwarna abu jurusan Labuan–Cilegon. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sana. Perjalanan agak panjang bersamaan dengan kondisi jalan yang berlubang, membuat supir angkot harus berhati-hati agar mobil tidak membentur lubang aspal dengan keras. Sambil menunggu sampai ke tujuan, mata saya lagi-lagi dimanjakan dengan alam.

Laut di sepanjang bahu kiri jalan begitu lepas, gelombangnya yang tak begitu besar masih saling bersahutan dan aromanya yang asin begitu pekat dihirup. Namun, hal itu tidak turut diindahkan oleh warna langit yang kelam. Perahu-perahu di pesisir pantai tak terlihat layarnya. Dibiarkan begitu saja oleh para nelayan yang biasa melaut di waktu sore. Sedangkan di bahu kanan jalan, bukit-bukit tertutup kabut akibat hujan pagi tadi, dihiasi barisan petak sawah yang terhampar. Hanya ada beberapa petak sawah yang menguning, sisanya masih menghijau, dan yang paling parahnya hanya tersisa beberapa onggok padi karena tempatnya tumbuh tenggelam oleh air akibat hujan.

Tak berapa lama, terlihat sebuah menara menjulang tinggi dari kejauhan. Saya pun segera turun ketika angkot yang ditumpangi berhenti di depan gerbangnya. Mercusuar Cikoneng, begitu namanya.

Masuk ke dalam, tak ada orang yang berjaga. Karena tak terlihat loket di sekitar pintu masuk alias bebas bayaran, maka saya segera beranjak untuk menjelajah lebih dalam.

Dari dekat, menara suar Cikoneng lebih tinggi dari yang saya bayangkan. Warna putih yang membungkusnya, membuat sang pengawas lalu lintas laut itu terkesan kuno. Belum lagi sebuah papan yang terpajang di atas pintu masuk.

ONDER DE REGEERING VAN
Z.M. WILLEM III
KONING DER NEDERLANDEN
ENZ. ENZ. ENZ.
OPOERIGHT YOOR YADT LIGHT 21 GROOTTE.VER YERYANGING YAN DEN STEENEN LIGHTTORENIN 1883 DW DE RAMP YAN KRAKATAUYERNIELG
1885

Membacanya, membuat saya merinding. Membayangkan menara ini telah diterpa waktu sejak Gubernur Willem III merekonstruksinya kembali, karena puing-puing yang lama telah hancur tanpa sisa akibat letusan induk Krakatau.

Mercusuar Cikoneng
Foto: Gita Gisela
Pintu masuk tampak tertutup rapat. Saya mengira mungkin wisata ke dalam menara sedang tidak diperbolehkan. Namun, ketika seorang pria paruh baya berseragam pemerintahan lewat dan bertanya apa keperluan saya, ia langsung tersenyum ramah, “Masuk aja Neng, pintunya nggak dikunci.”

Benar apa katanya, pintu menara hanya dibiarkan merapat, namun tak seorang pun ada yang menguncinya. Setiba di dalam, terlihat sebuah bangunan di tengah ruangan. Bangunan itu berukuran lebih kecil, namun ikut menjulang menyamai tinggi menara. Bangunan ini diyakini sebagai sumbu penyangga dari menara suar.

Masuk ke lantai utama, dua orang wisatawan tampak membaca salah satu dari 27 cerita mercusuar milik negeri yang terbingkai rapi di tiga lantai. Setiap lantai menyajikan sembilan cerita. Lantai keempat hingga tingkat 18 merupakan lorong menuju titik cahaya.
Di lantai ketiga, pengunjung bisa melihat lautan dari bilik jendela. Airnya yang jernih saling berlomba menghantarkan gelombang, ditambah dengan bayang gunung di balik kabut putih menjulang tinggi dari seberang. Tak ada perahu yang berlayar di perairannya. Ingin rasanya saya jelajahi lagi hingga ujung menara demi melihat kehidupan di Selat Sunda lebih luas. Namun sayang, mulai dari lantai empat, pengunjung mulai tidak diperbolehkan untuk melangkah lebih jauh—selain para penjaga menara.

Di bibir pantai, sang pusaka tampak berkibar mengikuti tiupan angin, menemani bola dunia yang seakan diangkat oleh kedua tangan Atlas. Di antara kedua tangannya terdapat sebuah nisan yang berdiri kokoh.

Di sini awal berdirinya menara suar Cikoneng yang merupakan
petanda titik 0 (Nol) Km Anyer–Panarukan.
Anyer, 25 Juni 2014

Begitu yang tertulis di atasnya. Di bawah tulisan itu kemudian tergambar sebuah peta dengan ukiran garis membentuk sebuah jalan di sepanjang Pulau Jawa, atau dikenal dengan jalan Anyer–Panarukan.

Mercusuar Cikoneng di kaki Anyer mungkin tidak secerah mercusuar milik Islandia. Namun, romansa masa lalu yang dipadukan dengan alam yang saya temui begitu nyata. Cukup membuktikan bahwa selain memiliki pesona alam, perjalanan hingga ujung barat Pulau Jawa pun memiliki sejarah yang akan selalu dekat, jika kita berniat menyelaminya.[]

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Vote: Sundul atau Tenggelamkan?

0 points
Sundul Tenggelamkan

Total vote: 0

Sundulan: 0

Persentase sundulan: 0.000000%

Penenggelaman: 0

Persentase penenggelaman: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kiat Membuat Tulisan Perjalanan yang Memikat

Gunung Aseupan, Ada Makam di Puncaknya