Mengejar Mentari di Bromo

Matahari terbit Bromo
(Foto: Rani)

“You don’t have to be rich to travel well,” kata Eugene Fodor. Saya setuju dengannya. Seperti cerita saya kali ini, dengan budget yang minim dan segenggam niat, kami mulai perjalanan ini.

Sebenarnya ini hanya perjalanan biasa, yang bisa dilakukan orang biasa, karena saya sendiri termasuk orang yang awam dalam melakukan perjalanan seperti ini. Namun pengalaman saya yang luar biasa, membuat saya memutuskan untuk bercerita.

Tepat tengah malam, kami bergegas sambil mengenakan secarik pakaian hangat. Hanya ada satu helai baju hangat dan lapisan parka tipis. Ya, kami kurang persiapan karena ide gila ini muncul dengan tiba-tiba. Niat kami malam itu sangat bulat demi melihat matahari pertama di bulan Mei.

Udara Kota Malang malam itu sangat dingin, namun langitnya teramat cerah. Kami tidak menyewa mobil jeep atau jasa travel untuk menuju ke tempat tujuan kami, Kawasan Taman Nasional Gunung Bromo. Karena budget yang minim, terlalu mahal menyewa jeep untuk berdua, akhirnya kami mencari teman perjalanan dan mengendarai sepeda motor. Hanya bermodal air mineral, roti, dan bahan bakar, akhirnya kami berempat tancap gas menuju Taman Nasional Bromo Tengger.

Kami menyusuri jalanan Kota Malang. Lampu-lampu kota lama kelamaan lenyap perlahan, digantikan hutan-hutan dengan pepohonan lebat di kanan-kiri jalan. Kami hanya berempat, menaiki 2 sepeda motor yang berkendara beriringan.

Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan teman pejalan yang juga mengendarai sepeda motor. Mereka beramai-ramai mengendarai 4 motor dengan tujuan yang sama dengan kami. Setelah 2 jam perjalanan, kami tiba di palang pintu gerbang kawasan Taman Nasional Gunung Bromo. Dewi Fortuna tampaknya menggerakkan kuasanya malam itu, kami diizinkan melewati palang, sehingga bisa masuk dengan cepat ke dalam Kawasan Taman Nasional Gunung Bromo tanpa harus membeli tiket masuk.

Malam itu cuaca semakin dingin, mulut kami berasap saat berbicara dan kami hanya memakai pakaian hangat seadanya. Jalanan yang menanjak, semakin terjal. Badan jalan yang lebar, semakin menyempit. Hanya ada kabut yang menemani kami, dan mencoba mengalahkan cahaya dari lampu motor.

Jalanannya berkelok dan panjang. Sampai akhirnya bebatuan berganti dengan pasir yang membuat ban motor kami selip. Kalutnya malam itu, karena ban motor selip, ada beberapa teman kami yang tertinggal di belakang sehingga harus berhenti dalam beberapa saat, agar bisa jalan beriringan.

Tangan hingga kaki kami gemetar hebat, sebegitu dinginnya. Namun semua lenyap seketika, saat saya mendongak ke langit malam itu. Bintang-bintang bertaburan layaknya permata bak lautan di gulitanya malam. Seperti masuk ke dalam planetarium, gumamku. Detik itu pun aku bersyukur atas nikmat Tuhan. Malam itu, senyum kami mengalahkan dingin yang menusuk hingga ke rusuk. Di perjalanan mengejar mentari di Bromo, dihiasi hamparan bintang-bintang di lautan langit malam.

Kenikmatan alam malam itu hanya bisa kami saksikan dengan mata kami sendiri. Kamera ponsel tidak bisa merekam momen indah itu, sehingga hanya mata kami yang bisa merekamnya. Mata kami terpukau sehingga hanya bisa memuji Tuhan atas segala kenikmatannya.

Setelah mengendara di lautan pasir, teman pejalan kami memmutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan karena kabut semakin tebal. Mereka memberi kami arah jika ingin terus melanjutkan perjalanan. Kami juga khawatir karena kabut, dan tangan kami sepertinya sudah lelah mengendarai motor, sehingga kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.

Kami dan beberapa teman pejalan akhirnya menepi, tepat jam 3 pagi. Kami duduk di gelaran matras hitam, sambil menikmati secangkir kopi hitam. Kami berbincang, dan tertidur hingga pagi.

Kami bangun dan segera bersiap untuk naik ke atas perbukitan, untuk melihat matahari pertama di bulan mei. Saya dan teman menumpang motor warga untuk sampai ke atas perbukitan, karena dua teman kami terlalu lelah untuk berkendara ke atas. Tepat sampai diatas perbukitan, matahari baru mulai naik menyapa lembut bumi, dan kami. Lagi-lagi saya bersyukur atas nikmat-Nya, dan saya menyaksikan indahnya matahari pertama terbit di bulan kelima tahun ini.

Mengejar Mentari di Bromo
(Foto: Rani)
Hangatnya sang surya menepis kedinginan kami tadi malam. Tidak saya keluhkan kesunyian pagi itu. Kami hanya bisa bersyukur-dan-bersyukur tanpa habisnya. Pagi itu, di perbukitan kawasan Bromo terlihat balutan asap dari gunung semeru, dihiasi langit berwarna biru-oranye, dengan sedikit tumpukan warna ungu yang sepadan.
 
Setelah puas menjepret dengan latar belakang matahari terbit, kami turun dan perjalanan ini harus bertemu dengan kata pulang.
 
Saat perjalanan pulang, terlihat beberapa penduduk sekitar sedang bercocok tanam dan beraktivitas lain. Jalanannya memang berkelok dan menurun, namun berbeda rasanya saat berkendara di malam hari dan siang hari. Walau berkelok, kami bisa melihat jelas ke depan dan tidak ada perasaan khawatir. Perbedaan yang sangat jauh!
 
Setelah sampai di kota Malang, kami kedapatan oleh-oleh badan yang remuk dan harus bergegas ke stasiun untuk kembali pulang ke kota kami. Sampai berjumpa lagi Bromo! Jika kita bertemu lagi, saya pastikan untuk ke sana dengan persiapan yang sangat matang![]

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Vote: Sundul atau Tenggelamkan?

2 points
Sundul Tenggelamkan

Total vote: 2

Sundulan: 2

Persentase sundulan: 100.000000%

Penenggelaman: 0

Persentase penenggelaman: 0.000000%

2 Komentar

Komentari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Setangkup Cerita dalam Secangkir Kopi Lasem

Setangkup Cerita dalam Secangkir Kopi Lasem

Jeram Watu Gong Kracakan, Cepu, Jateng

Menemukan Makna Pulang di Jeram Watu Gong Kracakan