Gunung Pulosari: Meski Pendek, Jangan Anggap Enteng

Gambar pemandangan dari puncak Pulosari
Pemandangan dari puncak Gunung Pulosari

Seusai pendakian Gunung Aseupan, saya, Ilham, Bila, Mela dan Riezky melanjutkan perjalanan menuju Gunung Pulosari yang berada di Desa Pari arah Mandalawangi. Sekitar satu jam dari Desa Sikulan, kami sudah sampai di Pari. Kami beristirahat di sebuah warung dekat pos registrasi yang menjadi tempat kumpul para pendaki. Gunung Pulosari sudah populer di kalangan pendaki, tak heran saat kami datang, para pendaki sudah ramai. Beruntung kami masih kebagian tempat parkir dan tempat istirahat.

Untuk sampai ke Gunung Pulosari, jika ingin menggunakan kendaraan umum, bisa naik bus jurusan Labuan dari terminal Pakupatan, Serang. Lalu turun di pertigaan Mengger. Dilanjutkan naik angkutan kota (angkot) arah Mandalawangi, turun di Pari. Ada plang yang bertuliskan Kawasan Wisata Gunung Pulosari. Atau bisa bertanya pada supir angkot. Dari pertigaan plang, kamu berjalan kaki sekitar 2 Km sampai ke pos registrasi.

Malam ini kami bermalam di warung. Saya menyebut pemiliknya dengan sebutan si Babeh, ya meski sebenarnya dia orang Sunda, sih. Beruntung si Babeh baik hati membolehkan pendaki bermalam di kamar yang disediakannya. Kami memilih tidur di teras kamar yang jauh lebih adem dan berbaur dengan para pendaki lain. Setelah melepas lelah, saya memutuskan mandi di kamar mandi yang disediakan.

Badan terasa segar, ringan dan segala peluh terasa turun bersama air. Meski airnya sangat dingin, namun yang lain ikut-ikutan mandi seperti saya. Mungkin biar nggak lengket setelah mendaki Gunung Aseupan.

Hari mulai malam. Kami menikmati udara malam dan langit yang cerah dengan mengobrol di teras.  Riezky memesan mie rebus pada si Babeh. Kemudian saya juga ikut memesan. Akhirnya kami memesan mie instan rebus untuk semua tim ini. Sepertinya mie rebus pilihan yang pas disaat dingin dan badan lega seusai mandi seperti ini.

Setelah menikmati panasnya mie rebus, kami berbaring dengan menyesuaikan tempat masing-masing. Kami sudah bersiap untuk tidur, tapi mulut kami masih belum lepas dengan obrolan-obrolan. Mulai dari makan di puncak Gunung Aseupan yang masih misteri bagi kami, sampai musibah hilangnya ponsel Ilham.

Pagi-pagi sekali kami sudah bangun. Setelah merapihkan tempat tidur, berkemas, dan sarapan, kami siap mendaki Gunung Pulosari yang sudah berdiri gagah menyambut kami.

Gunung Pulosari merupakan gunung berapi aktif yang berada di bawah naungan Perum Perhutani, yang masih berada di kawasan Pandeglang, Banten. Menurut informasi, tidak ada data mengenai letusan yang pernah terjadi. Gunung ini dikategorikan sebagai gunung keramat oleh banyak masyarakat karena banyak ditemukan arca peninggalan kerajaan Sunda. Menurut sejarah juga, dahulu, Sunan Gunung Jati bersama Puteranya, Hasanuddin, saat baru sampai di Banten langsung mengunjungi Gunung Pulosari. Mereka menyebarkan agama Islam bagi masyarakat di sana. Setelah itu menaklukan Kerjaan Banten Girang.

Biaya registrasi pendakian sangat murah, cuma 5 ribu rupiah saja. Pendakian dari titik awal sampai ke Air Terjun Putri, atau masyarakat menyebutnya Curug Putri, lumayan panjang, berkelok, dan menanjak. 1,5 jam kami tempuh untuk sampai ke Curug Putri.

Di sana ada sebuah saung yang juga difungsikan sebagai pos. Ada 2 bapak-bapak menggunakan kaus lengan panjang dan sarung di punggungnya tengah duduk. Di depannya ada bekas api unggun yang masih memperlihatkan nyala baranya.

Gambar Curug Putri
Curug Putri

Air curug yang jatuh melalui dinding sungai yang tak terlalu tinggi menggoda saya, sepertinya segar dan menyenangkan mandi di bawah kucurannya. Namun kami memutuskan tidak mandi dulu. Sebaiknya mandi di curug saat turun nanti, saat tubuh terasa pegal dan butuh kesegaran. Kami beristirahat sejenak di bebatuan dan saung, membiarkan kaki dibasahi air sungai yang mengalir jernih. Kami juga mengisi air untuk minum dan masak nanti. Di kawah dan di puncak sulit air. Adapun di kawah airnya terasa masam karena tercampur belerang.

Pendakian dilanjutkan. Sebenarnya gunung ini hanya memiliki ketinggian 1.346 mdpl. Tapi medannya tidak bisa disepelekan. Sejak dari Curug Putri, jalurnya terus menanjak dan terjal. Muka ketemu lutut, bahkan. Membuat beberpa dari kami harus duduk, jalan lagi, duduk lagi, jalan lagi.

2 jam kami tempuh dari Curug Putri sampai Kawah Pulosari. Rupanya sudah banyak pendaki yang memenuhi area dengan tenda-tendanya. Suara keramaian riuh rendah memenuhi area. Banyak aktivitas para pendaki juga. Ada yang masak, berfoto, dan hanya sekadar mengobrol di depan tenda. Kawah di gunung ini memang tak terlalu besar, sehingga panasnya tidak terlalu terasa. Namun jangan memasang tenda di dekat kawah, saat malam aroma belerangnya bisa sangat kuat dan panasnya lama-lama bisa membuat gerah.

Kami akhirnya memutuskan melanjutkan pendakian sampai puncak setelah beristirahat sejenak. Berharap di puncak masih ada sisa tempat untuk memasang tenda. Ini sebenarnya bisa dibilang nekat, karena kami tahu kalau di puncak area datarnya sangat sedikit. Kalau sudah ada pendaki lain yang mengisi, tamatlah riwayat kami.

Yang lebih gila, Riezky memilih jalur yang tidak umum. Jika jalur umum melalui punggungan yang mengitari gunung, jalur yang kami lewati ini berada di balik kawah, berupa bekas sungai yang mengering. Bisa dibilang ini merupakan lembahan. Kaki kami menginjak batu-batu sepanjang jalur. Tidak ada pemandangan yang bisa dilihat karena kiri dan kanan berupa dinding tanah. Selain itu, jalur ini sepi, teramat sepi malah. Hanya kami berlima yang melintasi jalur ini.

Setelah terus mendaki dengan lintasan lurus, kami harus memanjat salah satu dinding sungai untuk masuk ke jalur menuju puncak. Tidak ada patokan jelas bahwa itu adalah pertigaan, ini hanya insting Riezky yang sudah melalui jalur ini. Sebenarnya ini tidak baik. Selain berbahaya karena jalur ini tidak ada yang tahu tingkat keamanannya, jika terjadi sesuatu akan sulit meminta bantuan pendaki lain yang berada di jalur lain.

Setelah lolos dari jalur ‘ilegal’, jalanan berikutnya sangat sempit. Pepohonan mulai renggang, makin terus berjalan makin berkurang. Kami ternyata berada di dinding punggungan menuju puncak. Tanaman-tanaman yang mendominasi pendek-pendek, hanya selutut. Pemandangan terbuka dan terang. Namun jalur ini mengerikan, karena kami bisa melihat jelas kawah di bawah, dan jika terpeleset, tidak ada pohon untuk berpegangan. Amat sangat hati-hati.

Puncak sudah di depan mata. Dan setelah tarikkan tangan dan tolakkan saya terakhir, kami tiba juga di puncak Pulosari. Kawah yang terdapat tenda-tenda pendaki terlihat jelas dari sini. Warna-warni kecil seperti taburan meises di atas kue.

Puncak Pulosari memang tak sekecil puncak Gunung Aseupan, namun juga tidak bisa menampung tenda lebih dari 2. Entah ini keberuntungan jenis apa, ternyata di puncak belum ada tenda yang mengisi. Buru-buru kami membongkar tenda dan memasangnya. Jangan sampai kami keasyikan dengan pemandangan, lalu ada pendaki lain yang memasang tenda di sini.

Hari sudah siang. Waktu tempuh dari kawah sampai puncak sekira 1,5 jam. Setelah tenda terpasang, kami memasak makan siang. Sebenarnya bukan kami, sih. Cuma Mela dan saya.

Makan siang sudah, pasang tenda sudah, ransel dirapikan di tenda juga sudah. Sorenya, kami memilih menikmati pemandangan dengan duduk santai di bibir puncak yang menghadap kawah. Di kejauhan terlihat Gunung Aseupan yang kemarin kami daki. Lebih jauh lagi, segaris pertemuan daratan dan air laut terlihat jelas. Ah, ini membuat saya teringat masa kecil.

Dahulu, saya bersama sepupu sangat senang memanjat pohon petai di belakang rumah demi melihat garis pantai di kejauhan. Bagi kami itu sangat indah dan penuh imajinasi. Membayangkan bermain di pantai, merasakan deburan ombak, dan berpuas mencari kelomang, sudah sanggup membuat kami saling tertawa. Ah, indahnya kenangan masa kecil. Saya rasa, banyak hal yang saat masa kecil saya imajinasikan dan bayangan begitu indah dan keren, kini sudah saya temui satu persatu, bahkan melebihi imajinasi itu sendiri. Tapi saya sangat sering abai dan melewati keindahan itu, keindahan yang saya dambakan semasa kecil. Saya sadar, saya harus banyak bersyukur dan mengingat nikmat mana lagi yang saya dustakan.

Kami berlima duduk menghadap cakrawala. Bersiap menikmati matahari terbenam.

“Yang masak siapa? Jangan keenakan, ntar nggak ada yang masak makan malam lagi,” ujar Riezky sambil tetap menghadap lautan.

“Nggak tahu,” jawab salah satu dari kami.

Riezky menoleh ke saya. Seakan mengatakan ‘kamu masak lagi, ya.’

Saya balas menatap. “Bodo amat!”[]

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Vote: Sundul atau Tenggelamkan?

0 points
Sundul Tenggelamkan

Total vote: 0

Sundulan: 0

Persentase sundulan: 0.000000%

Penenggelaman: 0

Persentase penenggelaman: 0.000000%

1 Komentar

Komentari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Syahdu Mengalir di Gili Air

Syahdu Mengalir di Gili Air

Yogyakarta Kota Mantan

7 Alasan Kenapa Yogyakarta Paling Pas Disebut “Kota Para Mantan”